BIM dan 3D Model

Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel Mengenal BIM, bahwa BIM adalah model 3D yang memuat banyak informasi – informasi yang bisa digunakan oleh berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan proyek. Jadi ketika kita membuat sebuah model 3D namum informasi yang didalamnya tidak benar maka itu tidak bisa disebut dengan BIM. Sebagai contoh di halaman Facebook Forum Revit Indonesia. Banyak yang bertanya perihal bagaimana membuat pondasi batukali yang biasa digunakan di Indonesia yaitu pondasi srip batu kali trapesium. Banyak yang menyarankan untuk membuat dengan family Beam dan memberi material batu kali. Memang dalam visualisasi model 3D itu akan tampak sebagai pondasi batu kali, namum di dalam BIM hal itu merupakan hal yang salah. Karena informasi pada model adalah beam bukan pondasi. Seperti yang kita ketahui bahwa informasi – informasi tersebut akan digunakan semua disiplin ilmu  yang berkaitan dengan proyek. Misalnya estimator pasti akan kaget dengan ground beam yang mempunyai volume sangat besar.
Mungkin ada yang akan melakukan pembelaan bahwa itu hal sepele dan estimator kan bisa melihat dari model 3D. Ya benar. Namun itu hanya contoh kecil saja yang memang bisa dengan mudah dilacak. Bisa kita bayangkan seandainya sebuah bangunan 50 lantai namun drafter engginering struktur membuat beam dengan family wall misalnya (bisa jadi karena banyak variasi ukuran tinggi sedangkan lebar banyak yang sama). Kemudian insinyur struktur akan menghitung kekuatan dengan software robot atau etabs, maka model akan menjadi kacau ketika di konversikan dari revit.

Jadi untuk disebut sebagai BIM model maka model 3D harus memuat informasi yang benar baik itu informasi dimensi maupun informasi non- dimensi.

Penggunaan 3D model di BIM juga mempunyai keuntungan :

  • Model walkthroughs – menyediakan sarana untuk semua disiplin ilmu yang berkepentingan untuk mengidentifikasi masalah bersama – sama melalui model 3D.
  • Clash detection – gambar teknis 2d akan dikoordinasikan dengan disiplin ilmu lain sehingga tidak saling bertabrakan atau menggangu fungsi satu sama lain. Tentunya gambar tersebut adalah gambar lengkap dengan dimensi dan ukuran. Sedangkan dengan model 3D akan lebih awal terdeteksi dan dapat dipastikan bahwa elemen – elemen bangungan antar disiplin ilmu tidak saling mengganggu sebelum dijadikan gambar teknis untuk panduan konstruksi.
  • Project visualisation – Sebuah simulasi sederhana yang dapat ditunjukkan kepada pemilik bangunan apa skedul progress yang akan dikerjakan.
  • Single source of truth – Jika gambar teknis 2D dihasilkan dari model 3D maka akan benar hubungannya dengan bagian bangunan yang lain yang didesain oleh disiplin lain. (Seperti yang sudah dijelaskan tentang Clash detection) Jadi pipa disiplin ME sudah pasti tidak menabrak beam disiplin struktur dan lain sebagainya. Tentunya sebelum menuju hasil itu, kemudahan untuk berkoordinasi antar disiplin dengan model 3D inilah yang membantu dalam fase desain.
Selain dengan 3D saat ini dan dimasa depan akan banyak penambahan D yang lain untuk kemajuan BIM. Beberapa diantaranya adalah :
4D – Time
Dengan menambah ‘time’ atau skedul waktu di dalam BIM akan mempermudah dalam fase konstruksi . Contoh kecil saja : pintu dalam model 3d akan ditambahkan informasi waktu kapan dipasang misalnya setelah finishing dinding agar cat tidak mengotori pintu yang sudah dipasang.

5D – Cost
Dengan menambahan informasi harga pada elemen BIM akan memudahkan untuk menghitung anggaran dalam proyek. Kita juga bisa dengan lebih mudah untuk menyesuaikan dengan anggaran yang dimiliki oleh pemilik bangunan selama proses desain. Misalnya kita bisa mengubah jenis pintu dengan yang lebih murah untuk menutupi kekurangan anggaran pada saniter. Dan ini juga memudahkan ketika nanti ada renovasi atau penggantian elemen karena usia. Misal akan mengganti semua saniter, karena sudah memuat harga, kita tinggal mengganti informasi harga saniter 10 tahun lalu saat bangunan dibuat dengan harga yang sekarang saat renovasi.

6D – Asset Management
Dengan  data – data yang tercantum pada setiap elemen bangunan baik itu elemen arsitektur, struktur maupun MEP akan meudahkan pemilik bangunan memanajemen aset – aset yang dia miliki. Seperti contoh pada 5D yang sudah saya tuliskan diatas. Dengan data 3D, 4D dan 5D maka kita akan memiliki data 6D yang lengkap.

7D-10D – Various
Level Model yang lebih tinggi dari 6D namun belum dipakai secara luas oleh industri. Dan masih bisa dikembangkan definisinya untuk masa depan.
7D – Sustainability and Safety, or Life Safety
8D – Maintainability
9D – Acoustics
10D – Security

 

Leave a Reply