Panduan Adopsi BIM di Indonesia

Logo BIM Kementrian PUPR

Kementrian PUPR bekerjasama dengan Institut BIM Indonesia sudah berkolaborasi menghasilkan sebuah buku elektronik berjudul Panduan Adopsi BIM dalam Organisasi. Buku elektronik ini berjumlah 38 halaman yang memaparkan secara singkat bagaimana langkah – langkah untuk menerapkan BIM dalam organisasi / perusahaan kita. Walaupun hanya secara singkat dan tidak mendetail namun buku ini sangat penting karena memuat langkah – langkah yang tidak boleh kita lewati untuk kesuksesan implementasi BIM. Langkah – langkah tersebut adalah

1. Kepemimpinan. Sangat penting karena BIM bukan sekedar alat dan metode kerja tapi proses kerja yang berbeda. (baca : Menciptakan BIM Vision yang Efektif) Continue reading “Panduan Adopsi BIM di Indonesia”

Posted on

Microsoft Membuat Helm Proyek Hololens

 Microsoft dan Trimble berkolaborasi membuat adapter untuk memasang hololens di helm proyek.   Sebuah solusi yang briliant karena sekarang virtual realty dari rancangan proyek bisa dibawa langsung ke lapangan (site). Sehingga presentasi kepada pemilik bangunan tidak hanya dari ruangan tetapi bisa langsung terlihat di lapangan.

Informasi lebih lanjut tentang adapter helm ini ada di https://www.trimblemepstore.com/category-s/129.htm

Posted on

Kantor Baru Trimble, Dapatkah Mendukung Adopsi BIM di Indonesia?

Pada hari senin 4 Maret 2019 kemarin saya mendapat undangan untuk menghadiri acara pembukaan kantor Trimble dan penyerahan plakat BIM pioneer di South Quarter Function Hall, Lantai LG, SQ Dome, Jl. R.A.Kartini Kav 8, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Trimble adalah perusahaan yang menyediakan solusi untuk Industri kontruksi. Produk mereka yang sudah sangat di kenal di Indonesia adalah software Tekla Structures dan Trimble Sketchup.

Acara dimulai pada jam 11 dengan pidato singkat dari Mr. Jari Heino, General Manager Trimble Solutions Corporation kemudian dilanjutkan oleh perwakilan dari pemerintah yaitu Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR Bapak Ir. Herry Vaza, M. Eng.Sc, Ph.D. Dari Trimble menceritakan tentang hadirnya Trimble Solutions di Indonesia sedang dari Kementrian Continue reading “Kantor Baru Trimble, Dapatkah Mendukung Adopsi BIM di Indonesia?”

Posted on

Autodesk membeli PlanGrid

Autodesk dikabarkan telah membeli PlanGrid sebesar US$ 875 Juta hari ini. PlanGrid adalah startup yang membantu sebuah proyek untuk memindahkan penggunaan kertas blueprint menjadi blueprint dalam ipad pada waktu berdiri di tahun 2011. Seperti sudah kita ketahui bahwa hal ini sejalan dengan misi Autodesk yang menjadi pioneer dalam BIM. Bahwa BIM pada dasarnya adalah satu – satunya sumber untuk sebuah proyek (baca : https://antowi.com/apakah-bim-itu.html) maka memang mau tidak – mau untuk menggunakan BIM kita harus mendigitalisasi data – data dalam proses konstruksi sebuah bangunan. Baik itu pada fase perencanaan semisal markup atau kolaborasi antar disiplin kemudian submital dokumen maupun pada saat konstruksi seperti pembuatan RFI dan lain – lain.

Memang saat ini Autodesk mempunyai BIM 360 yang sangat powerfull. Namun PlanGrid akan tetap menjadi platform terbuka yang menawarkan Interoperabilitas untuk kemudahan pengunaan antar aplikasi dengan yang bukan dari Autodesk.

Posted on

BIM : Gajah didalam ruangan

sumber : https://www.pbctoday.co.uk/news/bim-news/bim-joining-the-dots/41178/ (dengan beberapa penyesuaian)

Gajah didalam ruangan adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang berarti bahwa orang tidak mau mendiskusikan masalah yang terlihat jelas.

Banyak orang yang berkata “Kami sudah melakukan BIM” Namun apakah sebenarnya BIM? Niraj Mistry seorang senior BIM di Stroma Certification mengatakan bahwa BIM pada dasarnya adalah menggabungkan titik – titik dalam sebuah keterlibatan dan kolaborasi. Beberapa orang yang mengklaim “ Kami sudah melakukan BIM” mempunyai konsep memodelkan bangunan dengan informasi – informasi. Sebenarnya lebih daripada itu. Jangan melakukan BIM namun terlibatlah dengan BIM itu lebih penting. Bagaimana menerangkan “terlibat dengan BIM” ? Bisakah anda membayangkan berapa banyak disiplin dan yang berkepentingan dalam sebuah proyek anda? Baiklah akan kita uraikan bagaimana terlibat dengan BIM pada paragraf berikut.

Intinya adalah bahwa pada sebuah proyek dimana BIM digunakan, semua orang memainkan peranan masing – masing. Penanan tersebut bervariasi dari proyek ke proyek. Masih banyak kesalahpahaman di indrustri bahwa BIM hanyalah menyangkut pada perangkat lunak saja. Memang perangkat lunak mempunyai peranan penting namun BIM lebih baik digambarkan sebagai manajemen informasi digital.

Berdasar pada gambar diatas. Menghubungkan titik – titik  sesuai urutan akan membentuk gambar gajah. Ini menggambarkan project BIM. Dengan menghubungkan titik – titik sesuai urutan, kita memberikan apa yang klien inginkan. Setiap titik menggambarkan urutan  langkah yang harus kita lakukan oleh berbagai macam disiplin yang berkepentingan dalam proyek. Dengan langkah yang berurutan kita berarti terlibat dengan BIM, sedangkan jika hanya bekerja bersama – sama tanpa langkah yang berurutan berarti kita hanya bekerja dengan BIM software.

Tidak penting bagaimana memandang seberapa besar gajah yang ada namun bagaimana menghubungkan titik – titik tersebut secara beurutan.

Posted on

Drafter Otodidak dan Software Bajakan berparalel.

Apa yang menyebabkan banyak perusahaan di Indonesia menggunakan software bajakan? Berikut adalah opini pribadi saya dari perspektif profesi draftsman/drafter.

Dalam kurun waktu antara tahun 2009 – 2013 yang saya telusuri di google.com banyak berita yang menyebutkan bahwa perusahaan – perusahaan di Indonesia menggunakan software bajakan dalam bekerja. Bahkan Autodesk mengklaim bahwa hanya 30% perusahaan di Indonesia yang memakai software asli mereka. (sumber : http://www.tribunnews.com/bisnis/2010/06/28/70-persen-perusahaan-domestik-pakai-software-autodesk-bajakan) Bahkan di tahun 2013 ada berita mengagetkan bagi saya yaitu sebuah perusahaan besar dan terkenal ketahuan menggunakan software Tekla bajakan.

Sebenarnya apa yang membuat mereka menggunakan software bajakan? Banyak hal yang menjadikan perusahaan – perusahaan di Indonesia menggunakan software bajakan. Mungkinkah karena software – software asli sangat mahal? Tidak juga. Jika dibandingkan dengan nilai proyek yang didapat saya pikir software resmi adalah aset. Apalagi jika perusahaan yang menggunakan software tersebut adalah perusahaan konsultan konstruksi yang produk utama mereka adalah sebuah laporan hitungan dan gambar teksnis dari sebuah proyek. Artinya satu – satunya aset berharga mereka adalah software asli. Tetapi benarkah pendapatan mereka dalam sebuah proyek tidak bisa menutupi jika menggunakan software asli? Saya memang tidak tahu persis namun jika alasan penggunaan software bajakan karena untuk menekan cost project bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah dalam membuat proposal kepada pemilik project seharusnya kita juga memasukkan cost untuk elemen – elemen tersebut. Software, man power dll.

Saya berprofesi sebagai Drafter sudah 12 tahun dan selama itu saya sudah berkelana di 5 perusahaan. Saya sudah bertemu berbagai macam teman drafter dan engineer. Mengetahui bagaimana mereka bekerja. Rata – rata dalam rentang pekerjaan saya itu yang banyak digunakan adalah AutoCAD. Ya.. autocad sepertinya sudah menjadi standar dalam dunia kerja semenjak tahun 2000an di Jakarta. Mengapa di Jakarta? karena saya berasal dari DIY dan pada saat saya lulus SMK hanya perusahaan – perusahaan di Jakarta yang membuka lowongan Drafter dengan AutoCAD. Itulah sebabnya mengapa saya baru 12 tahun menjadikan Drafter/Draftsman sebagai profesi saya.

Tahun 2000an awal selain susah mencari pekerjaan juga penggunaan AutoCAD sebagai software bantu untuk rancangan konstuksi mulai marak. Banyak tempat yang membuka kursus AutoCAD. Namun saya tidak tahu apakah AutoCAD yang diajarkan sudah sesuai dengan keinginan pembuat software? seperti kita ketahui bahwa dalam menggunakan AutoCAD sangat fleksibel. Tidak ada cara yang salah selama hasil yang didapatkan benar. Namun yang ada adalah efektif atau tidak menggunakan cara yang kita pakai tersebut? Karena itu maka banyak teman – teman yang tidak tahu fitur – fitur yang sangat membantu dalam meningkatkan efektifitas bekerja. Karena hal tersebut lama – kelamaan AutoCAD menjadi software yang umum dan banyak yang “merasa” bisa menguasai AutoCAD sehingga tidak perlu untuk belajar secara resmi di Autodesk Training Central.  Karena harga kursus di ATC termasuk mahal dan AutoCAD dianggap gitu – gitu saja yaitu mendigitalisasi meja gambar. Bagaimana dengan saya? saya termasuk orang yang tidak pernah belajar secara resmi baik di kursus umum maupun di kursus resmi ATC. Sebenarnya kita bisa menggunakan software apapun secara “benar” jika kita rajin untuk membaca Help dari software – software tersebut. Tinggal pencel F1 pada saat software terbuka maka akan terdapat bantuan dalam menggunakan software.

Nah sekarang apa hubungannya penggunaan software palsu dengan drafter yang belajar software secara otodidak? Software diciptakan untuk membantu manusia lebih efisien dalam bekerja. Dalam bayangan pembuat software, dengan digunakan software tersebut akan mengurangi man power dalam bekerja, mengurangi waktu dalam bekerja sehingga hasilnya bisa berdampak besar dalam sebuah proyek. Proyek tersebut sukses, dan banyak keuntungan. Namun pada kenyataanya di lapangan, ke-efisienan tersebut rupanya tidak terbaca oleh manajemen perusahaan. Memang ada perbedaannya dibanding bekerja dengan cara yang kuno namun hanya sedikit.  Akhirnya mau tidak – mau perusahaan harus mencari cara bagaimana produk bisa dihasilkan dengan lebih efektif.  Akhirnya dibutuhkan banyak personel dalam sebuah proyek yang artinya cost membengkak. Profesi drafter ya hanya sama saja dengan drafter masa lalu yang menuangkan sket dari arsitek/engineer. Tidak ada yang spesial dari drafter. Pun software untuk drafter juga tidak spesial karena tidak ada drafter yang bisa menunjukkan potensi sebenarnya dari software tersebut. Harga mahal dari sebuah software tidak bisa memenuhi syarat sebagai infestasi perusahaan.

Nah sekarang bagaimana meningkatkan bergaining power seorang drafter? Jaman sekarang lupakan kecanggihan AutoCAD. Kita tidak perlu bersusah payah belajar AutoCAD secara benar karena AutoCAD sudah gagal menunjukkan kehebatanya selama ini. Mau kita punya Autodesk Certified Professional (ACP) untuk AutoCAD juga pasti perusahaan hanya memandang sedikit. AutoCAD kan gitu – gitu saja, banyak yang “bisa” mungkin itu pemikiran perusahaan. Sebagai seorang drafter kita sekarang meningkatkan kemampuan dengan belajar software – software modeling BIM secara BENAR. Ada banyak software modeling antara lain Autodesk  Revit, Bentley AECOsim, Archicad, Tekla, Bricscad BIM, Allplan dll.  Seperti yang saya katakan, jangan pernah malas untuk memencet tombol F1 bahkan jika kita merasa benar dalam menggunakan suatu perintah. Karena bisa saja kita hanya merasa benar bukan benar beneran. Tapi kan banyak juga teman – teman di luaran sana yang tidak peduli dengan “cara benar” tersebut. Yang penting hasil sesuai dengan yang diinginkan oleh designer (arsitek/engineer) . Tidak teman – teman! Kita tentu ingat kalau di AutoCAD kita bisa menggambar garis busur dengan perintah ARC, bisa juga kita membuat CIRCLE kemudian kita TRIM dan hasilnya semuanya benar. Tidak dengan modeling BIM. Karena keseharian pakai Revit, saya ingin membuat contoh dengan Revit. Di dalam memodelkan bangunan di Revit, memang kita bisa membuat model misalkan pondasi dengan beam. Kita membuat tipe beam sebesar pondasi kemudian memberinya parameter material batu kali misalnya. Ya… dalam model secara visual itu adalah pondasi batu kali , tetapi dalam artikel saya Apakah BIM itu? sudah saya tuliskan bahwa kekuatan BIM itu ada di huruf I yaitu Information. Itu artinya kita memberikan informasi yang keliru dalam membuat modeling. Dan itu artinya kita belum BENAR dalam memodelkan.

Kita juga bisa menginformasikan tentang BIM kepada perusahaan sewaktu wawancara kerja. Setidaknya ketika kita ditanya oleh pewawancara “ Ada pertanyaan Pak/Bu?” Kita bisa mengorek apakah perusahaan sudah tahu tentang BIM? Apakah menggunakan software2 tersebut memang berencana mengadopsi BIM system dalam bekerja? Ataukah sekedar ikut – ikutan? karena perusahaan lain pakai Revit akhirnya ikut pakai Revit. Tapi itu kan teknis? Bukan teman – teman BIM bukan teknis. BIM itu menyangkut teknik, manajemen, keuangan dan tentunya man power.

Jadi apakah sekarang teman – teman mau lebih tahu tentang BIM atau bodo amat?

Posted on