Macam Cara Kolaborasi di Revit

Dalam bekerja di Revit kita mempunyai banyak cara untuk bekerja banyak orang  bersama – sama dalam 1 file model. Ada setidaknya 3 cara yang bisa kita gunakan tergantung kebutuhan dan sumber daya infrastruktur dan dana. Cara – cara tersebut adalah :

1. File-based Worksharing
File based Worksharing adalah cara untuk banyak orang berkerja dalam 1 model yang paling mudah. Yaitu file yang akan dikerjakan kita aktifkan collaborate dan membuat beberapa worksets kemudian file tersebut otomatis akan menjadi central model yang kita taruh di suatu lokal network yang bisa diakses semua anggota team secara bersamaan. Kelemahan dari sistem ini adalah setiap orang dalam team bisa memindah atau menimpa file central model tersebut karena tidak ada administrator yang memanage file central model. Continue reading “Macam Cara Kolaborasi di Revit”

Posted on

Conceptual Modeling Duel (Formit vs Sketchup)

Dalam beberapa artikel yang sudah saya buat, seringkali saya menuliskan bahwa BIM adalah sebuah proses yang berkelanjutan. Untuk itu dalam modeling 3D untuk BIM juga harus mengikuti proses tersebut yaitu sesuai fase yang ada. Biasanya fase – fase tersebut adalah Concept Design, Schematic Design, Detailed Design, Construction Documentation, Fabrication & Assembly, As Built. Jadi detail dari model yang kita buat akan mengikuti fase – fase tersebut. Tidak semua hal kita modelkan. Itu yang disebut sebagai BIM Level of Development (LOD). LOD perfase dinamakan berbeda – beda yaitu  LOD 100, LOD 200, LOD  300, LOD 350, LOD 400 dan LOD 500. Mengenai LOD akan saya tuliskan dalam artikel yang berbeda.

Kali ini saya akan membahas tentang software yang Continue reading “Conceptual Modeling Duel (Formit vs Sketchup)”

Posted on

BIM Modeling Dengan Trimble Sketchup

Sketchup sejatinya bukan hanya sebagai software modeling 3D saja. Walaupun banyak orang yang menggunakannya hanya sebagai sket 3D atau dalam kata lain hanya pada stage konsep. Bukan sebagai software untuk membuat data – data konstruksi. Saya sudah lama tidak menggunakan sketchup dan baru tahu bahwa sejak sketchup 2014 sudah mendukung format IFC. Itu artinya sketchup bisa digunakan sebagai software BIM Modeling.

Namun untuk mengeksport menjadi IFC ada syarat yang harus dilakukan pada saat modeling dengan Sketchup. Kita tahu bahwa sketchup berbasis pada model face 3D bukan solid 3D. Untuk itu elemen – elemen dalam sketchup harus kita jadikan “solid”. Ada 2 macam cara yaitu Continue reading “BIM Modeling Dengan Trimble Sketchup”

Posted on

Paperless engineering progress dengan Revit dan Autodesk Design Review

Dalam engineering tentunya ada beberapa kali proses sehingga design bisa samapi siap digunakan. Proses tersebut berkaitan dengan disiplin lain yang tentunya membuat design yang kadang clash dengan design yang kita buat. Dan juga proses dimana engineer dan pimpinan perlu melihat gambar design yang dibuat apakah itu sudah siap untuk dikirim kepada client dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Biasanya drafter akan mencetak gambar yang dia buat kedalam media kertas, kemudian engineer akan mereview dan kemudian  memberikan markup. Setelah itu berbekal markup tersebut, drafter akan memperbaiki gambar yang dia buat. Berapa kali markup tergantung ketelitian masing – masing pihak apakah itu drafter maupun engineer. Belum lagi kalau yang melakukan review lebih dari 1 orang, misalnya engineer, lead engineer kemudian pimpinan perusahaan. Tentu akan berkali – kali print out berbentuk kertas dan review. Mungkin bagi sebagian perusahaan itu merupakan pemborosan dan tidak go green. Continue reading “Paperless engineering progress dengan Revit dan Autodesk Design Review”

Posted on

BEST REVIT PRACTICES : File Maintenance

Seperti yang pernah saya tuliskan dalam beberapa artikel di blog ini, bahwa kekuatan utama BIM adalah data dimana data – data tersebut akan selalu siap digunakan dari berbagai fase dari fase perencanaan, fase konstruksi, perawatan bahkan sampai dengan renovasi dan pembongkaran bangunan. Untuk itu data – data tersebut perlu dirawat agar siap digunakan untuk setiap fase dan tanpa mengalami file corrupt atau beberapa bagian yang hilang. Berikut beberapa langkah untuk maintenance file Revit.

Maintenance Berkala : Semisal dalam fase perencanaan ada beberapa kali pengiriman kepada klien. Misalnya saat fase skematik maka perlu dilakukan beberapa hal sebelum lanjut ke fase detail design yaitu :

  • Audit Central File
  • Backup Central File
  • Membuat Central File untuk fase yang baru (fase berikutnya)
  • Memastikan semua pengguna Central File (drafter/modeler) untuk membuat lokal file yang baru dari central file yang baru (fase berikutnya)
Setiap 2 Minggu : buat backup central file
Setiap 1 Minggu :
  • Audit Central File
  • Lakukan Coordination Review (Menu tab Colaborate –> Coordination Review)
  • Lakukan Interference Check (Menu tab Colaborate –> Interference Check)
  • Review dan Selesaikan Warning yang ada.
  • Hapus view yang tidak terpakai dalama Project Browser
  • Purge elemen yang tidak akan digunakan 
  • Compact Lokal dan Central File
Setiap Hari :
  • Audit Local File pada saat pertama kerja membuka file
  • Compact Local File pada saat menutup file untuk selesai bekerja di hari itu.

Posted on

BEST REVIT PRACTICES : Membuat Model yang Efisien

Software Revit membutuhkan hardware komputer dengan spesifikasi yang lumayan tinggi. Jadi kita perlu membuat model dengan seefisien mungkin. Beberapa hal yang bisa membuat modeling 3D kita menjadi efisien antara lain :

  1. Area Schemes: Buang Area Schemes yang tidak diperlukan agar tidak menumpuk dan berat.
  2. Arrays: Gunakan array untuk obyek yang banyak dan teratur, namun setelah itu kita ungroup jika sudah tidak ada perubahan.
  3. Constraints: Kurangi penggunaan Constraints agar tidak mengakibatkan konflik.
  4. Copy / Monitor: Copy/Monitor memang sangat berguna untuk sinkronasi elemen dengan disiplin lain dalam proyek. Namun sebaiknya digunakan hanya untuk grid dan level saja. Terlalu banyak menggunakan copy/monitor (misalnya saja dipakai pada wall) malah tidak akan efektif.
  5. Design Options: Gunakan Design Options untuk membandingkan opsi desain dengan lebih cepat. Namun jika desain yang disepakati sudah ditentukan, hapus opsi lain agar file tidak berat. Jika opsi desain dalam skala yang besar semisal 90% bagian dalam sebuah bangunan, lebih baik menggunakan file lain daripada Design Options.
  6. Detail Level. Jika material dan jenis elemen bangunan belum ditentukan ( misalnya kusen pintu jendela mau pakai kayu atau pakai alumunium atau bahkan daun pintu dengan baja)  lebih baik gunakan family generic. Dan jika memerlukan typical detail untuk elemen – elemen tersebut gunakan gambar 2D dengan Drafting View atau Detail Component
  7. Detail Lines vs. Model Lines: Detail dan model lines dapat digunakan untuk menambahkan informasi yang mungkin tidak bisa dimodelkan secara efisien. Gunakan detail line untuk menambah informasi yang hanya pada 1 view dan gunakan model line jika informasi tersebut diperlukan untuk beberapa view.
  8. Family Creation: Parametric Family memang membutuhkan source yang besar jadi bisa membuat berat file, namun dengan parametric Family maka kita tidak akan terlalu banyak load type family yang sama misalkan hanya membutuhkan 1 parametric family kolom untuk 10 type. Face based Family lebih sedikit menggunakan source daripada family yang bisa cuts their hosts. Mungkin tidak perlu semua model 3D untuk membuat family karena akan membuat berat. Kita bisa membuat family 3D yang jika terpotong akan menampilakan garis – garis secara 2D yaitu dengan menambahkan family profile pada family 3D. Itu lebih ringan daripada kita membuat family benar – benar 3D sedetail – detailnya.
  9. Groups: Gunakan group untuk lebih cepat membuat perubahan pada bagian yang sama. Namun ungroup jika sudah tidak ada perubahan dan hapus group yang tidak terpakai lewat project browser. 
  10. Importing and Linking (AutoCAD DWG files, Revit, Filled Regions, Raster Images): Unload Link yang sudah tidak digunakan lagi. 
  11. Joined Geometry: Batasi  joined geometry sesuai kebutuhan.
  12. Levels in Elevation: Jangan gunakan level secara berlebihan. Misalnya untuk lintel beam dan kolom pada bukaan di dinding tidak perlu kita buatkan level. letakan pada level lantai dan beri ketinggian dari level tersebut.
  13. Railing : Tidak perlu sangat detail model 3D-nya. (lihat no 6)
  14. Splitting the Model : Autodesk merekomendasikan untuk memotong (memisah bagian – bagian dari) Model yang mempunyai ukuran byte 160mb untuk revit 32 bit dan 200mb untuk revit 64 bit. Misal untuk bangunan pabrik kita bisa memisahkan bagian produksi dengan bagian warehouse walupun itu 1 gedung. Keuntungannnya selain ringan juga masing – masing bisa dikerjakan oleh orang yang berbeda.
  15. Worksets : Gunakan worksets untuk membuat ringan model. Misalkan kita membuat model bangunan berikut desain landscapenya bisa kita pakai workset bangunan dan workset landscape. Dan lebih baik juga worksets link juga. Jadi ketika kita mengerjakan bangunan worksets landscape bisa dimatikan. Atau pada saat tidak membutuhkan link autocad, worksets link bisa kita matikan agar lebih ringan filenya.
  16. Worksharing : Selain Worksets kita juga bisa memakai worksharing yaitu model dikerjakan oleh 2 orang (lihat pada no 14) tentunya agar tidak saling bertabrakan kita buat worksets untuk masing – masing bagian bangunan. Misal worksets production dan worksets warehouse dan masing – masing yang mengerjakan pastikan utuk mengerjakan dengan worksets aktif yang tepat. 
  17. View Range : Sebaiknya view range secukupnya saja jangan terlalu panjang agar load file lebih ringan.
  18. View : hapus view yang tidak perlu.

Posted on

REVIT BEST PRACTICES : Memulai Project

Setelah membuat Revit template yang sesuai perusahaan (sesuai dengan yang diinginkan), selanjutnya adalah langkah – langkah yang penting yang harus dijelaskan kepada seluruh anggota tim saat memulai project :
 Project Folder / Struktur File :

  1. Server : membuat dan mengatur file untuk menempatkan dimana folder file Revit Central, folder reverensi (link revit, link cad dll,)  folder check gambar, dan folder derivelable
  2. Workstation (komputer pengguna) : Mengatur dimana file local copy, pengaturan revit server dan acelerator jika menggunakan revit server, Jika menggunakan BIM 360 tinggal login user autodesk saja, Jika menggunaka layanan server lain mungkin mengatur plugins revit untuk koneksi dengan servernya.)

    Model Position :

    1. Mengatur posisi model sesuai dengan data survey (koordinat, arah utara dll) menggunakan project base point dan survey base point.
    2. Mengatur Project North 
    3. Membuat gridline dan level bangunan.

      Model Organization : 

      1. Membuat worksharing jika diperlukan
      2. Menetapkan phase yang sesuai dengan project yang dikerjakan
      3. Menyiapkan design option
      4. Membuat Shared Parameter jika diperlukan

      Posted on