image source : thebimhub.com

Konsep BIM level pertamakali didefinisikan oleh Pemerintah Kerajaan Inggris, yang mendefinisikan berbagai variasi evolusi tahapan yang pada waktu itu sudah ada dan yang akan direncanakan berdasar pada pendekatan kolaborasi di dalam sistem BIM

Tidaklah mudah untuk mengubah proses maupun metode dalam bekerja agar dapat mengimplementasikan BIM. Itu bergantung pada kesiapan baik sumberdaya manusia maupun infrastuktur hardware maupun software. Untuk itu tidak menutup kemungkinan bahwa BIM di setiap negara bisa berbeda – beda. Bisa jadi BIM level 1 di Inggris lebih rumit daripada BIM level 2 di Malaysia. Bahkan di Indonesia. Karena negara – negara di sekitar Indonesia sudah mempunyai BIM standar nasional sendiri. Seperti di Australia dan Singapura. Sedangkan di Malaysia sudah ada draftnya sejak tahun 2014 (dan mungkin saat ini sudah ada). Bagaimana di Indonesia? sudah ada yang memulai untuk mendorong standard BIM yaitu Institut BIM Indonesia yang baru hadir pada tahun 2016 atau 2017 kemarin. Namun bagaimana kemajuannya, pastinya Malaysia akan ada terlebih dahulu karena mereka sudah mempunyai draft yang sudah didukung oleh pemerintahnya.

Kembali ke BIM Level. Secaragaris besar terbagi menjadi level 0 sampai level 3 yang didefinisikan sebagai berikut :

BIM level 0

Adalah keadaan proses kerja yang mentiadakan kolaborasi tipe apapun. Representasi visual dari proyek ini adalah melalui gambar 2D dan metode komunikasi dan presentasi melalui kertas. Teknologi yang digunakan berdasar pada software 2D

BIM level 1
Pada Level ini terdapat kombinasi penggunaan perangkat lunak 2D dengan 3D dimana hasil 3D digunakan untuk visualisasi agar lebih mudah untuk dimengerti. Sedankan untuk mengerjakan dan membuat dokumntasi teknis dan terperinci untuk mendapatkan persetujuan hukum adalah dengan hasil dari software 2D. Tidak ada kolaborasi antar disiplin ilmu dan masing – masing dari mereka mengelola informasi dan data sendiri.

BIM level 2
Level 2 dibedakan karena metode kerja yang kolaboratif. Semua disiplin ilmu bekerja dalam model 3D maupun 2D namun tidak harus di dalam 1 model dikerjakan bersama. Kolaborasi ada ketika ada pertukaran informasi antar didiplin ilmu. Inilah poin penting dalam level 2 ini. Setiap jenis software yang digunakan harus diekspor melalui standard file yang memungkinkan pertukaran data antar software yaitu  Industry Foundation Class (IFC) dan/atau Construction Operations Building Information Exchange (COBie).

BIM level 3
Didefinisikan sebagai kolaborasi secara penuh semua disiplin ilmu sebuah proyek dalam 1 file model 3D yang bisa diakses oleh semua orang yang berkepentingan di dalam proyek dimanapun dia berada di dunia ini.