BEST REVIT PRACTICES : File Maintenance

Seperti yang pernah saya tuliskan dalam beberapa artikel di blog ini, bahwa kekuatan utama BIM adalah data dimana data – data tersebut akan selalu siap digunakan dari berbagai fase dari fase perencanaan, fase konstruksi, perawatan bahkan sampai dengan renovasi dan pembongkaran bangunan. Untuk itu data – data tersebut perlu dirawat agar siap digunakan untuk setiap fase dan tanpa mengalami file corrupt atau beberapa bagian yang hilang. Berikut beberapa langkah untuk maintenance file Revit.

Maintenance Berkala : Semisal dalam fase perencanaan ada beberapa kali pengiriman kepada klien. Misalnya saat fase skematik maka perlu dilakukan beberapa hal sebelum lanjut ke fase detail design yaitu :

  • Audit Central File
  • Backup Central File
  • Membuat Central File untuk fase yang baru (fase berikutnya)
  • Memastikan semua pengguna Central File (drafter/modeler) untuk membuat lokal file yang baru dari central file yang baru (fase berikutnya)
Setiap 2 Minggu : buat backup central file
Setiap 1 Minggu :
  • Audit Central File
  • Lakukan Coordination Review (Menu tab Colaborate –> Coordination Review)
  • Lakukan Interference Check (Menu tab Colaborate –> Interference Check)
  • Review dan Selesaikan Warning yang ada.
  • Hapus view yang tidak terpakai dalama Project Browser
  • Purge elemen yang tidak akan digunakan 
  • Compact Lokal dan Central File
Setiap Hari :
  • Audit Local File pada saat pertama kerja membuka file
  • Compact Local File pada saat menutup file untuk selesai bekerja di hari itu.

Posted on

BIM dan 3D Model

Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel Mengenal BIM, bahwa BIM adalah model 3D yang memuat banyak informasi – informasi yang bisa digunakan oleh berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan proyek. Jadi ketika kita membuat sebuah model 3D namum informasi yang didalamnya tidak benar maka itu tidak bisa disebut dengan BIM. Sebagai contoh di halaman Facebook Forum Revit Indonesia. Banyak yang bertanya perihal bagaimana membuat pondasi batukali yang biasa digunakan di Indonesia yaitu pondasi srip batu kali trapesium. Banyak yang menyarankan untuk membuat dengan family Beam dan memberi material batu kali. Memang dalam visualisasi model 3D itu akan tampak sebagai pondasi batu kali, namum di dalam BIM hal itu merupakan hal yang salah. Karena informasi pada model adalah beam bukan pondasi. Seperti yang kita ketahui bahwa informasi – informasi tersebut akan digunakan semua disiplin ilmu  yang berkaitan dengan proyek. Misalnya estimator pasti akan kaget dengan ground beam yang mempunyai volume sangat besar.
Mungkin ada yang akan melakukan pembelaan bahwa itu hal sepele dan estimator kan bisa melihat dari model 3D. Ya benar. Namun itu hanya contoh kecil saja yang memang bisa dengan mudah dilacak. Bisa kita bayangkan seandainya sebuah bangunan 50 lantai namun drafter engginering struktur membuat beam dengan family wall misalnya (bisa jadi karena banyak variasi ukuran tinggi sedangkan lebar banyak yang sama). Kemudian insinyur struktur akan menghitung kekuatan dengan software robot atau etabs, maka model akan menjadi kacau ketika di konversikan dari revit.

Jadi untuk disebut sebagai BIM model maka model 3D harus memuat informasi yang benar baik itu informasi dimensi maupun informasi non- dimensi. 

Penggunaan 3D model di BIM juga mempunyai keuntungan :

  • Model walkthroughs – menyediakan sarana untuk semua disiplin ilmu yang berkepentingan untuk mengidentifikasi masalah bersama – sama melalui model 3D.
  • Clash detection – gambar teknis 2d akan dikoordinasikan dengan disiplin ilmu lain sehingga tidak saling bertabrakan atau menggangu fungsi satu sama lain. Tentunya gambar tersebut adalah gambar lengkap dengan dimensi dan ukuran. Sedangkan dengan model 3D akan lebih awal terdeteksi dan dapat dipastikan bahwa elemen – elemen bangungan antar disiplin ilmu tidak saling mengganggu sebelum dijadikan gambar teknis untuk panduan konstruksi.
  • Project visualisation  Sebuah simulasi sederhana yang dapat ditunjukkan kepada pemilik bangunan apa skedul progress yang akan dikerjakan. 
  • Single source of truth – Jika gambar teknis 2D dihasilkan dari model 3D maka akan benar hubungannya dengan bagian bangunan yang lain yang didesain oleh disiplin lain. (Seperti yang sudah dijelaskan tentang Clash detection) Jadi pipa disiplin ME sudah pasti tidak menabrak beam disiplin struktur dan lain sebagainya. Tentunya sebelum menuju hasil itu, kemudahan untuk berkoordinasi antar disiplin dengan model 3D inilah yang membantu dalam fase desain.
Selain dengan 3D saat ini dan dimasa depan akan banyak penambahan D yang lain untuk kemajuan BIM. Beberapa diantaranya adalah :
4D – Time
Dengan menambah ‘time’ atau skedul waktu di dalam BIM akan mempermudah dalam fase konstruksi . Contoh kecil saja : pintu dalam model 3d akan ditambahkan informasi waktu kapan dipasang misalnya setelah finishing dinding agar cat tidak mengotori pintu yang sudah dipasang.

5D – Cost
Dengan menambahan informasi harga pada elemen BIM akan memudahkan untuk menghitung anggaran dalam proyek. Kita juga bisa dengan lebih mudah untuk menyesuaikan dengan anggaran yang dimiliki oleh pemilik bangunan selama proses desain. Misalnya kita bisa mengubah jenis pintu dengan yang lebih murah untuk menutupi kekurangan anggaran pada saniter. Dan ini juga memudahkan ketika nanti ada renovasi atau penggantian elemen karena usia. Misal akan mengganti semua saniter, karena sudah memuat harga, kita tinggal mengganti informasi harga saniter 10 tahun lalu saat bangunan dibuat dengan harga yang sekarang saat renovasi.

6D – Asset Management
Dengan  data – data yang tercantum pada setiap elemen bangunan baik itu elemen arsitektur, struktur maupun MEP akan meudahkan pemilik bangunan memanajemen aset – aset yang dia miliki. Seperti contoh pada 5D yang sudah saya tuliskan diatas. Dengan data 3D, 4D dan 5D maka kita akan memiliki data 6D yang lengkap.

7D-10D – Various
Level Model yang lebih tinggi dari 6D namun belum dipakai secara luas oleh industri. Dan masih bisa dikembangkan definisinya untuk masa depan.
7D – Sustainability and Safety, or Life Safety
8D – Maintainability
9D – Acoustics
10D – Security

Posted on

Building Smart dan IFC

image source : buildingsmart.org

BuildingSMART International adalah organisasi nirlaba swasta yang tujuan utamanya adalah pengembangan dan standardisasi sistem BIM secara global.

Organisasi ini didirikan di Amerika Serikat pada 1990-an untuk memenuhi kebutuhan standardisasi  berbagai macam sotware konstruksi yang digunakan untuk memudahkan kolaborasi antar disiplin ilmu yang terlibat dalam sebuah proyek.

Tujuan utama buildingSMART adalah:

  • Untuk mengembangkan dan memelihara standar BIM internasional yang terbuka dan netral (Open BIM)
  • Mempercepat interoperabilitas di sektor konstruksi melalui kisah -kisah sukses penggunaan sistem BIM
  • Berikan spesifikasi, dokumentasi, dan referensi sistem BIM
  • Mengidentifikasi dan meyelesaiakan masalah yang menghambat dalam  pertukaran informasi (kolaborasi)
  • Memperluas penggunaan teknologi ini dan proses yang terkait sepanjang seluruh siklus hidup gedung dan untuk semua disiplin ilmu yang terlibat

    Sejarah buildingSMART.

    Pada tahun 1995 di AS, Autodesk mengadakan aliansi pribadi bersama dengan 12 perusahaan lain untuk menguji manfaat kerja kolaboratif dalam proses yang konstruktif dengan bertukar informasi antara berbagai jenis perangkat lunak di sektor konstruksi. Aliansi ini terdiri dari perusahaan -perusahaan  antara lain : Autodesk, Archibus, AT&T, Carrier Corporation, Arsitek HOK, Honeywell, Jaros Baum & Bolles, Laboratorium Lawrence Berkeley, Software Pegas, Software Softdesk, Software Timberline dan Tishman Construction . Perusahaan – perusahaan tersebut  yang terlibat dalam arsitektur, teknik dan pengembangan perangkat lunak, memutuskan untuk berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan proses yang konstruktif.

    Setelah satu tahun, Aliansi tersebut mencapai 3 kesimpulan yaitu :

    1. Interoperabilitas adalah wajib dan memiliki potensi komersial yang tinggi. (Interoperabilitas adalah dimana suatu aplikasi bisa berinteraksi dengan aplikasi lainnya melalui suatu protokol yang disetujui bersama)
    2. Standar harus bersifat umum dan Internasional
    3. Keanggotaan harus bersifat terbuka agar mendapatkan lebih banyak anggota dan pada saat yang sama akan mencapai minat yang lebih besar di seluruh dunia.
    Pada tahun 1994, Aliansi menghasilkan penjelasan yang menunjukkan awal dari konsep interoperabilitas melalui Industry Foundation Classes (IFC). 
    Pada Mei 1996  International Alliance for Interoperability (AIA) didirikan di London Inggris didalam pertemuan perwakilan dari Amerka Utara, Eropa dan Asia. Tugas AIA adalah membuat pengelompokan berdasarkan negara atau berdasarkan suatu kasus berdasar wilayah dan bahasa yang disebut dengan Chapter. Pada saat yang bersamaan akan menjadi organisasi internasional dengan 2 perwakilan pada setiap chapter. Pada tanggal 11 Januari 2008, IAI memutuskan untuk mengubah namanya menjadi buildingSMART agar lebih mencerminkan sifat dan tujuan organisasi.
    – Building: Pilihan kata ini dimaksudkan untuk menyatukan seluruh sektor konstruksi.
    – Smart: Istilah ini akan mencerminkan cara kita semua ingin membangun  secara cerdas.
    Pada saat ini buildingSMART mempunyai 17 Chapter di seluruh dunia. 
    Berikut ini adalah daftar Chapter buildingSMART regional, diurutkan berdasarkan benua:
    • Amerika Utara: Amerika Serikat, Kanada
    • Eropa: Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, Inggris & Irlandia, Norwegia, Nordik (Denmark, Swedia, Finlandia), Benelux (Belgia, Belanda dan Luksemburg), Swiss
    • Asia: Cina, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura
    • Oseania: Australasia (Australia dan Selandia Baru)
      Hmm semoga segera ada Chapter Indonesia agar tidak ketinggalan dengan negara – negara di sekitar Indonesia.

      Industry Foundation Classes (IFC) & Interoperability  

      Format Industry Foundation Classes (IFC) adalah format terbuka untuk pertukaran data dalam sistem BIM.Seperti yang sudah dibahas pada paragraf sebelemnya, format ini dikembangkan oleh AIA yaitu cikal bakal buildingSMART yang bertujuan menjadi standar untuk memfasilitasi interoperabilitas antara sistem perangkat lunak komputer yang berbeda di sektor konstruksi.
      Interoperabilitas penuh antar softaware yang berbeda sangatlah sulit untuk dikembangkan. Karena berbeda dalam sistem database dan kode – kode internal software. Untuk itu IFC sebagai “jembatan” antar software juga harus disetting sedemikian rupa agar mudah untuk saling berbagi data antar software yang berbeda. Walaupun tidak interoperabilitas tidak sempurna namun cukup untuk menghemat waktu setiap disiplin ilmu yang berkepentingan dalam sebuah proyek.

      Posted on

      Level dalam BIM

      image source : thebimhub.com

      Konsep BIM level pertamakali didefinisikan oleh Pemerintah Kerajaan Inggris, yang mendefinisikan berbagai variasi evolusi tahapan yang pada waktu itu sudah ada dan yang akan direncanakan berdasar pada pendekatan kolaborasi di dalam sistem BIM

      Tidaklah mudah untuk mengubah proses maupun metode dalam bekerja agar dapat mengimplementasikan BIM. Itu bergantung pada kesiapan baik sumberdaya manusia maupun infrastuktur hardware maupun software. Untuk itu tidak menutup kemungkinan bahwa BIM di setiap negara bisa berbeda – beda. Bisa jadi BIM level 1 di Inggris lebih rumit daripada BIM level 2 di Malaysia. Bahkan di Indonesia. Karena negara – negara di sekitar Indonesia sudah mempunyai BIM standar nasional sendiri. Seperti di Australia dan Singapura. Sedangkan di Malaysia sudah ada draftnya sejak tahun 2014 (dan mungkin saat ini sudah ada). Bagaimana di Indonesia? sudah ada yang memulai untuk mendorong standard BIM yaitu Institut BIM Indonesia yang baru hadir pada tahun 2016 atau 2017 kemarin. Namun bagaimana kemajuannya, pastinya Malaysia akan ada terlebih dahulu karena mereka sudah mempunyai draft yang sudah didukung oleh pemerintahnya.

      Kembali ke BIM Level. Secaragaris besar terbagi menjadi level 0 sampai level 3 yang didefinisikan sebagai berikut :

      BIM level 0

      Adalah keadaan proses kerja yang mentiadakan kolaborasi tipe apapun. Representasi visual dari proyek ini adalah melalui gambar 2D dan metode komunikasi dan presentasi melalui kertas. Teknologi yang digunakan berdasar pada software 2D

      BIM level 1
      Pada Level ini terdapat kombinasi penggunaan perangkat lunak 2D dengan 3D dimana hasil 3D digunakan untuk visualisasi agar lebih mudah untuk dimengerti. Sedankan untuk mengerjakan dan membuat dokumntasi teknis dan terperinci untuk mendapatkan persetujuan hukum adalah dengan hasil dari software 2D. Tidak ada kolaborasi antar disiplin ilmu dan masing – masing dari mereka mengelola informasi dan data sendiri.

      BIM level 2
      Level 2 dibedakan karena metode kerja yang kolaboratif. Semua disiplin ilmu bekerja dalam model 3D maupun 2D namun tidak harus di dalam 1 model dikerjakan bersama. Kolaborasi ada ketika ada pertukaran informasi antar didiplin ilmu. Inilah poin penting dalam level 2 ini. Setiap jenis software yang digunakan harus diekspor melalui standard file yang memungkinkan pertukaran data antar software yaitu  Industry Foundation Class (IFC) dan/atau Construction Operations Building Information Exchange (COBie).

      BIM level 3
      Didefinisikan sebagai kolaborasi secara penuh semua disiplin ilmu sebuah proyek dalam 1 file model 3D yang bisa diakses oleh semua orang yang berkepentingan di dalam proyek dimanapun dia berada di dunia ini.

      Posted on

      Mengenal BIM

      image source:bimplus.co.uk

      Apakah itu BIM? Baik akan kita mulai dengan kepanjangan dari singkatan BIM.

      Building = Bagian dari BIM yang menunjukkan tentang obyek yang dibahas selama proyek berlangsung.

      Information = Dalam konteks BIM, Information adalah semua informasi atau data yang berguna
      dihasilkan di seluruh siklus hidup bangunan. Ini termasuk informasi seperti gambar,
      rincian konstruksi, rendering 3D, spesifikasi teknis, analisis struktural, fasilitas
      informasi manajemen, analisis dan simulasi energi, pengukuran, anggaran dan pembelian
      informasi, perencanaan, dokumentasi dan pemeliharaan, dll

      Modeling = Ketika kita berbicara tentang “Modeling” kita mengartikan model tunggal tiga dimensi yang dihasilkan oleh proses BIM. Model ini dikembangkan oleh semua peserta dalam proses, yaitu  mereka yang terlibat dalam perencanaan, studi topografi, arsitektur, struktur, manajemen fasilitas,
      anggaran, dll

      Jadi BIM adalah proses menciptakan dan memanajemen  data selama siklus hidup bangunan mulai dari informasi awal perencanaan, skematik, detail design, konstruksi, perawatan, pengembangan bahkan sampai peruntuhan bangunan ke dalam sebuah model 3D yang dinamis dengan data yang real time.

      Ini membantu mengurangi waktu dan sumber daya yang terbuang dalam tahap desain dan konstruksi. Semua informasi ini bisa diakses sepanjang siklus hidup suatu bangunan oleh peserta proyek tanpa memandangnya kedekatan dengan proyek. Artinya data – data tersebut disimpan dan diakses melalui cloud (internet) yang disebut dengan common data enviroment (CDE)
      Sistem BIM ini memungkinkan semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan proyek dapat bekerja bersama – sama untuk melaukan kolaborasi dan mempercepat proses. Misalnya dalam clash detection. Karena menggunakan model 3D yang mudah untuk diakses semua yang berkepentingan dalam proyek, clash antar disiplin sebagai contoh pipa dari disiplin MEP yang menabrak beam dari disiplin struktur bisa dengan mudah terdeteksi dan segera untuk bisa di ambil keputusan penyelesaiannya.

      Agar bisa menggunakan BIM kita juga memerlukan platform BIM untuk menyimpan dan mengelola data – data yang ada. Beberapa platform BIM yang ada antara lain :

      • Autodesk BIM 360
      • Asite
      • Oracle Aconex
      • www.bimserver.center
      • dll

      Tujuan utama BIM adalah:

      • Untuk menawarkan dukungan untuk keputusan investasi dengan membandingkan fungsionalitas, ruang lingkup dan biaya proye.
      • Untuk menawarkan analisis komparatif persyaratan energi dan lingkungan yang akan memungkinkan pengguna untuk memilih solusi desain yang tepat
      • Untuk menampilkan dan berbagi desain dan studi kelayakan konstruksi.
      • Untuk menawarkan peningkatan jaminan kualitas dan pertukaran data untuk membuat proses desain lebih banyak, efektif dan efisien.
      • Untuk memanfaatkan data bangunan secara efektif selama konstruksi, operasi dan pemeliharaan.

      Posted on

      Beberapa Pengaturan untuk Template Revit (part 2)

      Membuat Hatch.

      Di dalam Revit kita juga bisa membuat hatch yang nanti akan bisa kita tampilkan dalam potongan. Berikut contoh untuk membuat custom hatch. Menu ada di ribbon  Manage –> Additional Settings –> Fill Patterns

      Setelah itu akan terbuka jendela Fill Patterns. Kita akan membuat custom pattern dari file PAT yang kita download dari internet. Ada dua macam pattern yaitu model dan drafting. Kita hanya akan membuat yang drafting saja. Kita clik new pattern dan akan terbuka jendela untuk membuat pattern baru.

      Nah disini ada dua pilihan kita akan membuat pattern berdasarkan garis- garis atau dari file PAT yang kita download dari internet. Saya akan menunjukkan cara untuk membuat dari file PAT. yaitu kita pilih custom pattern. Kemudian browse file PAT yang sudah didownload. Kalau di preview tidak nampak, kita atur – atur di bagian import scale.

      Line style, Line Weight dan Line Pattern

      Line style dibuat berdasarkan Line Weight dan Line Pattern.  Untuk pengaturan Line Weight dan Line Style sangat mudah tanpa tutorial. Jadi saya hanya akan menunjukkan bagaimana membuat Line Pattern. Kita klick menu Line Pattern kemudian akan kita akan membuat line paatern berdasarkan garis dan titik. Contohnya adalah seperti gambar dibawah ini. Type kita pilih Dash (garis) atau dot (titik) kemudian space (ruang kosong) dan value adalah panjang dari dash atau space.

      Setting yang lain – lain nanti bisa kita atur sesuai kebutuhan pada saat membuat gambar 2D jadi kita biarkan default saja. Karena yang terpenting sudah kita laukan pada saat load Family semisal grid head maupun section head dan callout head.

      Posted on

      Beberapa Pengaturan untuk Template Revit (part 1)

      Setelah kita memasukkan beberapa family yang akan sering kita pakai, maka langkah selanjutnya adalah kita akan mengatur beberapa pengaturan (setting) Revit agar sesuai dengan yang kita inginkan. Antara lain adalah Object Setting, Material dan setting yang lain – lainnya. Kita akan mulai dengan Object Setting. Menu ini ada di menu ribbon  Manage –> Settings –> Object Settings.

      Disitu kita bisa mengatur visualisasi dari obyek yang kita buat. Yaitu ketebalan garis pada waktu proyeksi maupun pada saaat terpotong, warna garis, jenis garis dan material. Untuk material sebaiknya di kosongkan saja. Selain obyek 3D kita juga bisa mengatur visualisasi dari annotation

      Kita juga bisa mengatur visualisasi obyek annotasi dengan click tab Annotation Objects. Misalnya Callout Boundary (Garis callout) bisa kita buat lebih tebal. Revision Cloud diberi warna merah dan lain sebagainya.

      Untuk membuat dan mengatur material bisa kita lakukan dengan clik pada menu ribbon Manage –> Settings –> Materials. Berikut contoh untuk membuat material baru untuk tembok autoclaved cellular concrete (Hebel) :

      Kita lihat gambar dibawah ini. Pertama kita clik Create New Material (1) kemudian click pada tab Identity (2) dan kita beri nama (3) jangan lupa untuk mengganti class menjadi Mansory (4)

      Kemudian kita clik tab Appearance (1) kemudian clik replaces this assets (2)

      Kemudian akan muncul jendela Asset Browser.  Kita pilih sesuai dengan klasifikasi material yang ada yaitu Autodesk Physical Assets –> Masonry –> CMU  kemudian kita double click pada Plain – Medium Gray. Kemudian kita tutup jendela Asset Browser dan kembali ke jendela Material Browser.

      Kemudian kita clik pada tab Graphics di jendela Material Browser. Kita bisa atur arsiran dari sini.  Untuk membuat arsiran atau import arsiran dari file .pat akan saya tuliskan di Artikel selanjutnya. Setelah selesai kita bisa clickApply dan OK

      Posted on