Tag Element Revit

Setiap gambar teknik pasti memiliki keterangan – keterangan teks pada elemen – elemen yang ada. Di Revit ada 2 jenis family untuk memberi keterrangan (Tag) yaitu Tag by Category dan Multi Category Tag. Apa perbedaaan antara keduanya adalah. Tag by Category digunakan jika kita membuat keterangan berbeda antar elemen. Misalnya pada contoh gambar di bawah ini :

Keterangan untuk kolom maupun balok kita bisa menggunakan Multi Category Tag karena hanya berupa huruf – huruf. Sedangkan untuk Slab (lantai) menggunakan Tag by Category karena selain huruf juga ada lingkaran. Jadi intinya Tag by Category kita gunakan kalau tampilan notasi berbeda dengan notasi pada umumnya yaitu hanya teks.

Yang perlu diperhatikan pada saat kita membuat Family Tag baik itu Tag by Category maupun Multi Category Tag adalah apa properties yang kita isikan kedalam family. Teman – teman bisa baca dalam artikel  Semua harus sama apakah itu pada isian Type Mark atau Type Name. Kalau dalam template standard adalah menggunakan Type Name dan merupakan nama dari elemen tersebut apakah beam 300×300, concrete colum 250×250 dll. Sedangkan biasanya dalam gambar teknik di Indonesia menggunakan notasi – notasi seperti contoh gambar diatas B.01 B.02 dan seterusnya. Untuk itu lebih tepatnya kita pergunakan Type Mark.

Untuk membuat Family Tag, seperti biasa kita memulai dari New—>Family—> Annotation—>Metric Generic Tag/Metric Multi-Category Tag.  Saya akan membuat contoh tag untuk structure slab dengan template Generic Tag. Untuk beam dan column itu lebih mudah karena hanya teks dan bisa menggunakan Multi Category Tag yang caranya sama dengan Tag by Category.

Setelah terbuka, kita pilih kategori untuk slab tag. Caranya dari menu ribbon Properties –> Family Category and Parameters.

Lalu kita pilih Floor Tags dan click OK

Seperti biasa kita hapus terlebih dahulu teks keterangan. Kemudian kita gambar 2 lingkaran. 1 untuk informasi kode slab 2 untuk ketebalan dan elevasi. Kemudian kita masukkan Label. Disini saya menggunakan 2 jenis Label yaitu 5mm dan 3mm. Parameter labelnya

  • Type Mark (5mm)  digunakan untuk notasi dari slab misal S1
  • Elevation on Top (3mm) digunakan untuk elevasi pada slab
  • Default Thickness (3mm) digunakan untuk ketebalan slab

untuk yang masih bingung cara membuat label bisa baca artikel berikut terlebih dahulu

Posted on

Insert 2D Family dan Cara Penggunaanya.

Kita sebelumnya telah membuat 2 Family 2D yaitu Grid Head dan Section Head. Dari dua contoh tersebut saya yakin teman – teman sudah bisa untuk membuat Family 2D yang lainnya seperti Level, reference, view name dll. Sekarang saya akan menunjukkan bagaimana family – family yang telah dibuat kita load ke dalam template agar bisa langsung kita gunakan kedalam project. Kita buka project template kemudian kita load Grid Head dan Section Head dari menu ribbon Insert—>Load From Library—>Load Family.  Setelah Family terload, kita akan membuat type berdasar family yang kita load. Sebagai contoh kita telah loada Grid Head dan Section Head. Untuk itu kita mulai dari membuat grid. Kita klik menu ribbon Structure (atau Architecture sama saja) –> Datum – > Grid. Kemudain pada jemdela properties kita clik Edit Type.

Kemudian kita rename dan di bagian Symbol kita pilih type yang sesuai dari family yang sudah kita buat. Kita juga bisa membuat pengaturan yang lainnya semisal warna garis maupun ketebalan garis.

180825_06

Kemudian contoh pembuatan type Section adalah seperti ini. Kita clik pada menu ribbon View –> Create –> Section.  Kemudian Edit Type dan kita atur sedemikian rupa dan pilih Section Head sesuai dengan peruntukannya seperti pada label yang sudah saya buat dalam artikel Membuat Section Head.

180827_1

Untuk Callout Tag kita clik pada … isian callout tag. Maka akanmuncul jendela type callout tag. Disini kita rename nama type calloutnya dan pilih callout head yang kita inginkan. Kemudian clik OK. Demikian juga pada type Sectionnya langkahnya sama.

Section dengan reference adalah jika kita mempunyai 2  section yang sama namun ingin kita tunjukkan dalam denah tanpa membuat gambar 2D pada masing – masing section. Jadi hanya 1 section saja yang dibuat 2D sudah mewakili 2 section. Caranya adalah create section kemudian pada menu ribbon Reference kita centang pilihan reference other view, lalu pilih section yang kita jadikan reference. Selain section lain kita juga bisa menggunakan sketch 2D dengan membuat drafting view.

180827_3          180827_3a

Dibawah ini adalah contoh penggunaan section dan keterangan di section head. Saya akan jelaskan dengan nomor – nomor yang tertera pada gambar.

180827_4

  1. 01 menunjukkan pada detail number plan yang kita buat. Walau saya lihat jarang perusahaan di Indonesia yang memberi nomor pada denah. Jika teman – teman tidak mau pakai bisa hapus centang di Family Section Head.
  2. Section tersebut sama persis dengan section paling kiri. Terkadang kita perlu menunjukkan letak detail yang sama pada denah.
  3. 2 adalah detail number section .
  4. S.2 adalah nomor sheet (lembar) dimana section tersebut ditempatkan.
  5. Seperti yang sudah saya tuliskan. Ada banyak section di sebuah project. Terkadang kita membuat section 01 di denah. Pas di detail kita juga membuat section 01. Nama yang sama tidak bisa digunakan dalam revit. Maka kita bisa mengubahnnya di Title on sheet. Seperti dalam contoh diatas seharusnya section 2 bukan section 1.

Merubah Detail number dan Title on Sheet bisa kita lakukan di jendela properties. Detail Number ada dibagian Graphics dan Title on Sheet ada di bagian Identity Data

180827_5              180827_6

Posted on

Membuat Family Section Head

Section Head adalah symbol dan keterangan pada waktu kita membuat tanda section pada gambar. Selain Section Head jika kita membuat type section juga ada Callout Head. Callout head adalah keterangan jika kita membuat suatu pembesaran untuk detail. Contoh dari callout head dan section head ada di gambar berikut.

Untuk membuat family Revit Section Head seperti biasa kita klik New —>Family —>Annotation  -–>Metric Section Head. Setelah terbuka kita hapus note-nya saja sedangkan lingkaran dan garis dummy tidak kita hapus (terutama garis dummy yang mempunyai parameter rotate with section—ini penting karena saya juga tidak tahu bagaimana parameter tersebut ada sedang di lingkaran dan garis baru yang kita buat tidak ada—). Setelah itu kita gambar panah dengan filled seperti pada contoh gambar diatas nanti kita beri parameter visibility yes/no. Saya akan buat parameter visibility yes/no untuk  garis panahnya saya beri nama Arrow .  Untuk arah panahnya menghadap ke atas agar sesuai nanti dengan arah potongan.

Setelah itu kita akan membuat label seperti biasanya.  Nah Label inilah yang nantinya akan menentukan apa informasi yang akan kita tampilkan pada section head dan callout head. Label – label yang tersedia tersebut adalah :

  • Detail Number
  • Reference Label
  • Referencing Detail
  • Referencing Sheet
  • Sheet Number dan
  • View Name

Saya akan menjelaskan dalam sebuah ilustrasi gambar sebagai berikut.

Kita lihat ada 3 bagian gambar yaitu Denah, Potongan 01 dan Detail A.  Saya akan mulai dari View Name. View name adalah nama section yang akan kita buat. Namun dalam Revit tidak boleh ada nama yang sama misalkan dalam gambar denah kita membuat section 01 kemudian di Detail A kita juga membuat section 01. Namun terkadang dalam perjalanan desain kita akan menambah section sesuai keperluan. Misalnya kita akan menambah 2 section lagi di gambar denah dan itu harus berurutan agar gambar terlihat bagus yaitu section 02 dan 03.  Mau tidak mau kita harus mengganti section 02 di gambar Detail A menjadi section 04. Tidak akan menjadi masalah jika kita hanya membuat 10 section dalam 1 project. Namun bagai mana jika ada 500 section dalam 1 project? Nah untuk itu label View Name tidak akan menjadi informasi yang muncul dalam section head dan callout head. Untuk view name bisa kita buat nama Dn.01, Dn.02 dan seterusnya untuk potongan di Denah dan Dt.01, Dt.02 dan seterusnya untuk potongan di Detail A.  Dengan cara ini, kita bisa membuat section 01 di denah maupun section 01 di Detail A dengan menampilkan informasi Detail Number dalam section head dan callout head yang kita buat. Syaratnya adalah mereka tidak boleh berada dalam 1 sheet karena Detail Number akan muncul kalau kita sudah memasukkan gambar ke dalam sheet. Karena Detail Number hanya muncul saat gambar sudah dalam sheet, maka kita tetap memerlukan informasi View Name yang nantinya akan kita gunakan untuk pembuatan type section help.

Reference Label  adalah kata – kata sebelum informasi  referensi ditampilkan. Misalnya referensinya berupa sheet misalnya A.001 maka Reference Label bisa kita tulis See DWG. Sehingga nantinya di Section Head bisa menjadi See DWG A.001 parameter ini tidak bisa diubah. Kita tinggal mengisi saja.

Referencing Detail  adalah nomor detail dari gambar yang kita detailkan. Misalnya dalam gambar Detail A kita mempunyai section 02. Disitu kita bisa menambahkan Referencing Detail yaitu di gambar section

Referencing Sheet  adalah informasi  jika kita membuat section di sebuah sheet misal A.001a yang sama persis dengan section di sheet lain yaitu sheet A.001b. Maka kita tidak perlu membuat section “asli” di gambar yang di taruh di sheet A.001b  tapi section dengan reference ke section yang lain.

Mungkin penjelasan diatas masih membingungkan. Akan saya tulis artikel tersendiri mengenai membuat dan memilih type section.

Baiklah kita mulai untuk membuat Type – type Section Head dan Callout Head. Untuk Label saya akan memakai 2 label yaitu 3mm dan 1,2mm. Pertama – tama kita akan memasukkan semua label terlebih dahulu.  Hanya Detail Number yang memakai label 3mm, selain itu memakai label 1.2mm. Susunannya seperti gambar berikut. Namun untuk referencing sheet nanti akan ditumpuk diatas referencing detail (tambahan : untuk view name juga kita tumpuk  namun sejajar Detail Number). Sebelumnya kita pisah terlebih dahulu untuk memudahkan memilih dalam membuat parameter visibility yes/no pada masing – masing label.

Setelah selesai barulah kita membuat type – typenya.   Berikut tabel Type yang saya buat.

Untuk membuat Callout Head caranya hampir sama namun template yang kita pakai adalah Metric Callout Head

Posted on

Membuat Family Grid Head

Grid Head atau keterangan nama pada grid dalam Revit termasuk pada family annotation. Sama seperti jika kita membuat grid head di AutoCAD yang menggunakan block dengan attribut.  Namun tidak seperti dalam AutoCAD yang harus kita masukkan namanya satu per satu. Di Revit bisa langsung mengikuti urutannya .

OK untuk memeulai membuat grid head seperti biasa kita akan klik pada menu New –> Family kemudian kita pilih pada folder Annotations :  Metric Grid Head.  Setelah terbuka kita ikuti catatan – catatan yang ada yaitu : Center dari grid head adalah pada pertemuan ref.plane (garis putus- putus hijau. garis referensi) Grid line akan terputus pada bagian terluar dari grid head yang akan kita buat.  Garis contoh (dummy line) merupakan orientasi dari grid line nantinya. Hapus catatan dan garis contoh (dummy line) sebelum memulai membuat Grid Head.

Kemudian kita akan membuat 2 type grid head yaitu dengan tinggi huruf 5mm dan 8mm untuk sementara. nanti kita bisa edit sesuai dengan kebutuhan. Mengapa harus 2 type? karena dalam Revit, sebuah family tidak bisa di perbesar atau di perkecil.

Seperti biasa kita akan menduplikat teks Label yaitu teks dengan ketinggian 5mm dan 8mm. Caranya sudah saya tuliskan pada artikel Membuat Drawing Titleblock (part 1). Kemudian kita clik di perpotongan ref.plane dan akan muncul jendela untuk mengatur para meternya. Kemudian kita tambahkan parameter yang tersedia yaitu name dan ganti sample value misal dengan A. Lakukan untuk kedua jenis Label (5mm dan 8mm) namun kita taruh agak kebawah dahulu agar nanti mudah dalam memilih (select). Kemudian kita buat lingkaran atau kotak terserah bagaimana nanti model grid head yang teman – teman inginkan.

Kemudian kita akan membuat parameter visibility untuk type yang 8mm dan 5mm. Kita mulai dari yang 8mm terlebih dulu. Caranya select pada lingkaran dan label 8mm. Kemudian pada jendela properties kita clik pada kotak kecil di sebelah visible. Kemudian kita buat new parameter dengan name 8mm, group parameter under : visibility jenis para meter : type. Lakukan juga pada grid head yang 5mm.

Setelah itu kita geser grid head agar bertumpuk pada posisi yang sama

         

Setelah itu pembuatan parameter Type sudah bisa dilakukan yaitu dengan click pada menu ribbon Properties –> Family Types

Kemudian kita buat New Type 8mm (1)  dengan pilihan visibility 8mm yang dicentang dan hilangkan centang pada visibility 5mm (2)  demikian juga sebaliknya buat yang  5mm.

Kemudian kita save dan siap di-load ke dalam template yang sudah kita buat.

Posted on

Bricscad Shape : Cara select pada obyek

Dalam bricscad shape ada cara untuk memilih (select) obyek yang kita inginkan. Karena obyek dalam bricscad shape adalah solid, ada cara untuk memilih face obyek, solid edge (garis sudut obyek), solid object, atau face yang dibelakang (hidden). Untuk memilih face caranya sangat mudah yaitu kursor kita letakkan pada face yang akan kita pilih. Jika ingin memilih banyak face kita tinggal memilih satu per – satu tanpa tekan tombol apapun pada keyboard.

Kemudian untuk cara memilih solid kita tinggal arahkan ke face sambil tekan tombol Ctrl.

Untuk memilih solid edge kita bisa tekan tombol Ctrl sambil meletakkan cursor pada solid edge yang kita pilih. Seperti jika memilih face, kita bisa langsung clik ke solid edge yang lain.

sedangkan untuk memilih face yang dibelakang kita bisa click tombol tab.

Posted on

Apakah BIM itu?

BIM (Building Information Modeling) adalah sebuah proses kolaborasi antar multi disiplin dalam sebuah proyek yang dituangkan kedalam model 3D. Jadi semua data dari lembaga Arsitektur, Rekayasa enginering dan Konstruksi tertuang dalam model 3D ini tidak melulu hanya sekedar bentuk 3D.  Juga merupakan data dari sebuah bangunan yang dapat diakses oleh pemilik dan lembaga yang berkepentingan agar bisa diambil keputusan mengenai keadaan pada siklus hidup sebuah bangunan yaitu pada masa perencanaan, pembangunan, perawatan bahkan sampai pada masa pembongkaran suatu bangunan.

Pada jaman dahulu sebuah blueprint perencanaan bangunan adalah data mengenai keadaan bangunan. kemudian datanglah CAD yang membantu digitalisasi data agar lebih mudah untuk menyimpan dan mencarinya. Kemudian ada file 3D yang membantu memvisualisasikan keadaan bangunan dan saat ini BIM adalah sebuah standar. Namun BIM tidak hanya visualisasi 3D saja karena setiap obyek dalam BIM memuat informasi – informasi yang lebih kaya (ukuran tepat, mutu bahan, kekuatan, koneksi antar obyek dll)

Pada paragraf pertama sudah dijelaskan bahwa BIM adalah proses kolaborasi multidisiplin dimana semua data disimpan dan mudah untuk saling berbagi. Namun kekuatan utama BIM ada di huruf I yaitu Informasi. Dimana seluruh data – data yang ada tersebut digunakan untuk mengambil keputusan dan ditindaklanjuti. Tidak akan ada kesalah pengertian antar disiplin dalam mengambil sebuah keputusan mengenai siklus hidup sebuah bangunan mulai dari perencanaan, perawatan , dan renovasi maupun pemugaran pada saat yang akan datang.

Bagaimana data – data tersebut bisa mudah untuk dapat saling berbagi? Data ini tersimpan pada suatu tempat yang mudah untuk diakses yang dikenal dengan sebutan common data enviroment (CDE). Tempat ini merupakan satu – satunya sumber mengenai aset bangunan. Jadi setiap keputusan diambil berdasarkan data dari tempat ini. Data yang dari luar tidak boleh untuk digunakan dalam mengambil keputusan. Untuk itu semua data dari pemilik, perencana, pelaksana dan data dari pemerintahan semua disimpan di tempat ini.

Keuntungan menggunakan BIM dalam proyek.

  1. Menampilkan keadaan nyata. Dengan BIM kita bisa menampilkan keadaan nyata sebuah proyek dalam file 3D
  2. Mengurangi hal yang tidak perlu. Karena model BIM adalah model 3D yang terintegrasi, maka akan mengurangi duplikasi gambar yang tidak perlu. Misalkan drafter arsitek masih menggambar elemen struktur  dalam mendetailkan sebuah bagian untuk menyesuaikan gambar yang akan dia buat.
  3. Kolaborasi lebih mudah. Karena data ada disatu tempat maka kolaborasi akan lebih mudah. Ketika arsitek membuat perubahan maka enginer struktur, MEP dll akan segera mengetahui perubahan tersebut.
  4. Memudahkan pendeteksian konflik. Karena perubahan dari sebuah disiplin bisa segera diketahui, maka akan cepat untuk dideteksi konflik dari elemen masing – masing disiplin sehingga dapat segera di ambil keputusan. Misalnya pipa dari disiplin MEP yang menabrak di kolom struktur bisa lebih mudah di deteksi.
  5. Simulasi dan Visualisasi. Dengan BIM kita bisa mensimulasikan bangunan misalkan dihubungkan dengan cuaca alam (musim).
  6. dan beberapa keuntungan lain daripada proses tidak menggunakan BIM

Level BIM

BIM mempunyai level 0, 1,2,3 dan untuk masa depan 4D, 5D dan 6D. Level ini mengindikasikan sejauh mana kematangan dari proses BIM yang kita gunakan. Karena tidak semua proyek mempunyai sumber yang tak terbatas.

BIM level 0

Level 0 tidak ada kolaborasi sama sekali. Masing – masing disiplin membuat rancarangan sendiri – sendiri.  Kemudian mencetaknya. Jika membutuhkan data dari disiplin lain kita harus meminta.

BIM level 1

Level 1 sudah menggunakan 3D namun data 2D dan data elemen 3D tidak ada. Kita harus memintanya secara manual kepada disiplin lain.

BIM level 2

BIM level 2 sudah menggunakan kolaborasi walaupun model 3D antar disiplin tidak dalam 1 file. Namun sebuah disiplin bisa dengan mudah melihat data dari disiplin lain dan mempadupadankan data yang dia miliki sehingga bisa diambil keputusan dalam perancangan. Jika menggunakan software yang sma semisal Revit kita bisa menggunakan link dalam share data. Namun jika menggunakan software yang berbeda misal arsitek menggunakan Revit, struktur menggunakan tekla, tukar menukar data menggunakan standar file IFC (Industri Foundation Class)

BIM level 3

BIM level 3 dalam kolaborasi antar disiplin menggunakan satu sumber file 3D.  Ini sangat mudah jika menggunakan Revit yaitu kita tinggal mengaktifkan worksharing dan masing – masing disiplin bisa bekerja dalam 1 file tanpa saling menggangu (closed BIM). Namun bagaimana jika masing – masing disiplin menggunakan software yang berbeda? Kita bisa menggunakan OpenBIM . Menggunakan file standar BIM yaitu IFC, xBIM memungkinkan developer untuk membuat perubahan untuk file IFC. Atau bisa menggunakan tools yang di download dari http://www.biminteroperabilitytools.com/ tapi bukan file IFC melainkan file COBie.

Posted on

Mengisi Informasi Family Revit

Revit adalah software modeling 3D dari Autodesk yang harus kita gunakan jika kita menggunakan BIM (Building Irformation Modeling) system dalam sebuah proyek. Apakah BIM itu? menurut The US National Building Information Model Standard Project Committee yang saya ambil dari Wikipedia adalah :

Building Information Modeling (BIM) is a digital representation of physical and functional characteristics of a facility. A BIM is a shared knowledge resource for information about a facility forming a reliable basis for decisions during its life-cycle; defined as existing from earliest conception to demolition.

Disini berarti bahwa BIM adalah sebuah data – data digital yang menunjukkan karakter fisik dan fungsi sebuah bangunan. BIM merupakan sumber data satu – satunya yang bisa digunakan oleh pihak yang berkepentingan selama siklus hidup sebuah fasilitas atau bangunan semenjak dari fase konsep sampai fase demolition ( perubuhan).  Jadi dengan BIM kita mempunyai riwayat dari sebuah bangunan. Saya akan menuliskan lebih lanjut dalam artikel yang lain.

Kembali kepada bagaimana kita mengisi informasi – informasi dalam Family Revit. Mengapa informasi – informasi tersebut sangat penting? Karena jika kita membuat sebuah proyek dengan BIM bukan hanya melulu membuat sebuah model bangunan secara 3D. Namun sebuah model 3D yang memuat informasi – informasi agar bisa memenuhi definisi dari BIM seperti yang saya kutip pada paragraf sebelumnya. Meskipun banyak orang yang lebih jago daripada saya mengenai tentang Revit, banyak yang saya temui tidak menggunakan standard dari Autodesk untuk mengisi informasi – informasi tersebut. Memang itu tidaklah membuat model kita menjadi tidak informatif. Namun menurut saya ke-tidak standaran tersebut akan membuat banyak waktu yang akan terbuang. Misalnya jika kita merekrut team baru, maka kita harus menjelaskan kepadanya bagaimana dan dimana informasi – informasi itu dalam model 3D yang kita buat. Atau misalkan dalam fase demolish kita sudah tidak menjadi team untuk fase tersebut. Mungkin karena bukan perusahaan dimana kita bekerja yang mendapat proyek. Team mereka akan sedikit lebih keras bekerja jika mempunyai template yang berbeda standar dengan kita. Yang artinya akan membutuhkan banyak waktu. Dimana dalam BIM salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam sebuah proyek.

Untuk mengisi informasi sesuai dengan standard Autodesk kita bisa membuka help.

Posted on